Saya, GPT, dan Perjalanan Membangun dari Nol

Ada masa ketika saya merasa teknologi bukan tempat saya. Bukan karena saya tidak tertarik, tapi karena saya terbiasa mengukur diri dari masa lalu: sekolah saya tidak panjang, hidup saya lebih sering di lapangan, dan sebagian besar hari saya habiskan untuk bertahan.

Nama saya Hartono Wiwoho. Saya menulis ini bukan untuk terlihat hebat, tapi untuk mendokumentasikan satu hal yang pelan-pelan mengubah hidup saya: belajar teknologi dari nol dengan bantuan GPT (ChatGPT)—dan bagaimana proses itu membuat saya kembali percaya pada diri sendiri.

Latar belakang saya: hidup yang ditempa kerja dan jatuh-bangun.

Saya lahir di Jakarta 1981. Sekolah saya sampai kelas 2 SMA. Setelah itu, hidup saya diisi kerja apa saja yang halal: pernah jadi tukang ngubub pandai besi, tukang pacul, kerja bangunan, ngamen di terminal, sampai koperasi keliling.

Tahun 1998 saya merantau ke Jakarta dan bekerja di sablon spanduk sekitar 6 tahun. Setelah itu saya pernah mencoba usaha rongsok (bubar), sablon rumahan (bubar), lalu bekerja di percetakan. Tahun 2009 saya menikah. Saya sempat berpindah-pindah kota untuk mencari arah—sampai akhirnya saya berdiri sendiri membangun usaha sablon kaos yang saya jalankan sampai hari ini.

Dari banyak pengalaman itu, saya belajar satu hal: hidup bukan hanya soal kuat, tapi soal konsisten.

Pertemuan saya dengan GPT: bukan “jalan pintas”, tapi peta

Saya pertama kali menggunakan GPT bukan karena ingin jadi programmer. Saya hanya butuh teman diskusi yang bisa membantu saya:

  • merapikan tulisan untuk website,

  • menyusun langkah kerja,

  • memecah masalah besar jadi bagian kecil,

  • dan membuat saya tidak tersesat saat belajar hal baru.

Saya ini orang lapangan. Kalau tidak ada “urutan”, saya bisa jalan… tapi sering berputar-putar. Di situ saya merasakan bedanya: GPT bukan cuma memberi jawaban cepat—GPT membantu saya membangun peta langkah demi langkah.

Dan peta itu penting, karena membuat saya bisa bergerak tanpa takut berlebihan.

Proses belajar teknologi dari nol: banyak error, banyak ragu, tapi jalan terus

Banyak malam saya habiskan untuk ngulik setelah urusan kerja selesai. Kadang capek, kadang mentok, kadang ingin menyerah. Ada momen saya merasa, “kok orang lain kelihatan gampang ya?”—lalu muncul rasa minder.

Tapi saya selalu balik lagi.

Bukan karena saya tidak pernah takut. Justru karena saya takut, tapi saya punya alasan untuk tetap maju: saya ingin masa depan yang lebih tenang untuk keluarga, dan saya ingin membuktikan bahwa latar belakang bukan penentu akhir.

Titik balik: ketika saya berhasil membangun Racik Pintar

Salah satu momen paling besar buat saya adalah saat saya membangun Racik Pintar. Dulu saya pikir bikin aplikasi hanya untuk orang yang kuliah IT. Ternyata tidak.

Saya bisa membangun, memperbaiki, dan merapikan aplikasi itu pelan-pelan. Bukan karena saya tiba-tiba jadi pintar, tapi karena saya belajar dengan cara yang benar: kecil dulu, jalan dulu, lalu disempurnakan.

Di titik itu, saya seperti mematahkan kalimat lama di kepala saya sendiri: “orang seperti saya tidak mungkin bisa.”

Ternyata bisa.

Project yang saya bangun sekarang

Saat ini saya fokus pada empat hal utama:

VendorBaju.com

Bisnis konveksi dan sablon kaos custom yang saya jalankan setiap hari. Fokus saya: sistem order dan produksi makin rapi, pelayanan makin cepat, kualitas tetap stabil.

Racik Pintar

Aplikasi resep dan jadwal masak yang saya bangun bertahap. Ini bukan sekadar project digital, tapi simbol bahwa saya bisa belajar dan menciptakan sesuatu dari nol.

TukangBangunanBandung.id

Website layanan kontraktor bangunan (bukan marketplace). Saya ingin identitasnya jelas dan rapi—sebagai tempat portofolio dan informasi yang mudah dipercaya.

HW Studio

Website pribadi untuk menyimpan perjalanan, progress, dan karya. Tempat saya mengingatkan diri sendiri: saya pernah jatuh, tapi saya tetap jalan.

Pelajaran yang saya pegang: siap itu datang setelah mulai

GPT (ChatGPT) tidak menggantikan saya. Saya tetap yang memilih arah dan bertanggung jawab. Tapi GPT membantu saya mengurangi hal yang paling melelahkan: kebingungan.

Dan saat kebingungan berkurang, saya punya energi lebih untuk hal yang paling penting: konsistensi.

Saya belajar bahwa “siap” bukan syarat untuk mulai. Siap itu sering datang belakangan—setelah kita berani melangkah.

Penutup: ini bukan cerita tentang AI, tapi tentang harapan

Saya menulis ini untuk satu alasan: kalau saya bisa mulai dari nol, maka selalu ada kemungkinan bagi siapa pun untuk mulai lagi—dengan cara yang lebih rapi dan lebih sadar arah.

AI hanyalah alat. Tapi ketika alat itu dipakai dengan benar, ia bisa jadi jembatan: dari ragu menjadi berani, dari bingung menjadi jelas, dari “tidak mungkin” menjadi “ternyata bisa”.

Dan saya akan terus jalan—pelan, rapi, dan konsisten—karena saya sedang membangun masa depan.

FAQ

Bisa. Yang paling membantu adalah saat GPT dipakai untuk menyusun langkah, merapikan pikiran, dan memecah masalah besar jadi kecil.

AI membantu mempercepat proses, tapi keputusan dan tanggung jawab tetap ada di manusia yang menjalankan.

Saat ini fokus pada VendorBaju.com, Racik Pintar, TukangBangunanBandung.id, dan HW Studio.

Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *