Tentang VendorBaju.com
Ada satu fase dalam hidup ketika saya tidak lagi bertanya, “Saya mau jadi apa?”
Saya bertanya, “Besok saya bisa makan nggak?”
Di fase itu, hidup terasa seperti jalan panjang tanpa lampu. Yang ada cuma langkah. Satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Kadang jatuh, kadang bangun, kadang pura-pura kuat karena tidak punya pilihan.
Dan di tengah perjalanan itulah, sablon datang seperti benang yang terus kembali.
Bukan karena hidup saya rapi. Justru karena hidup saya berantakan.
VendorBaju.com bukan sekadar website. Ini adalah nama yang saya pasang sebagai tanda:
di titik ini, saya memutuskan berdiri di kaki sendiri.
Bab 1
Masa Gelap: Bertahan dengan Apa Pun yang Ada
Saya pernah hidup di fase di mana pekerjaan tidak perlu “cocok”—yang penting ada.
Kerja kasar, serabutan, apa saja. Kalau hari itu bisa lewat, itu sudah kemenangan kecil.
Saya belajar sesuatu dari masa itu: hidup tidak selalu memberi waktu untuk berpikir.
Kadang hidup hanya memberi pilihan: jalan atau berhenti.
Di banyak titik, saya merasa kecil. Merasa tertinggal. Merasa tidak punya “modal” seperti orang lain. Tapi anehnya, justru dari rasa kecil itu saya belajar jadi keras kepala dalam hal yang penting:
saya tidak mau menyerah.
Sablon buat saya waktu itu bukan pekerjaan keren. Tapi sablon adalah pegangan.
Tempat saya menggantungkan harapan ketika semuanya terasa tidak pasti.
Bab 2
Masa Belajar: Dari Kerja, Gagal, Lalu Bangkit Lagi
Ada usaha yang bubar. Ada rencana yang berhenti di tengah jalan.
Ada hari-hari ketika saya merasa sudah berusaha, tapi hasilnya seperti tidak bergerak.
Saya pernah merantau, pernah kerja di tempat orang, pernah dipercaya, pernah dipakai habis lalu ditinggalkan. Pernah dipecat. Pernah diajak kerja sama tapi dua bulan tidak dibayar.
Kalau saya jujur, bagian ini yang paling melelahkan: bukan capek fisik, tapi capek hati.
Karena yang membuat orang hampir menyerah bukan selalu masalah besar—tapi rasa kecewa yang datang berkali-kali.
Tapi di fase itulah saya menemukan hal yang pelan-pelan mengubah arah hidup saya:
saya mulai belajar komputer dan desain.
Awalnya tidak muluk-muluk. Bukan untuk jadi siapa-siapa.
Saya hanya ingin punya pegangan tambahan selain tenaga. Saya ingin bisa menciptakan sesuatu—walau kecil.
Saya belajar seperti orang yang berjalan sambil meraba. Salah. Ulang. Salah. Ulang lagi.
Tapi setiap kali saya mengulang, ada satu hal yang bertambah: keyakinan.
Bab 3
Masa Bertumbuh: Berdiri Sendiri, Merapikan, dan Menata Masa Depan
Sampai akhirnya saya sampai pada keputusan yang paling sunyi:
saya akan berdiri sendiri.
Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada tepuk tangan.
Yang ada cuma ketakutan dan tekad yang tipis—tapi cukup untuk memulai.
Di situlah VendorBaju.com lahir.
Bukan dari rencana besar. Tapi dari kebutuhan untuk bertahan dengan cara yang lebih waras.
Saya ingin membangun sesuatu yang pelan-pelan menjadi rapi. Saya ingin usaha yang tidak hanya “jalan”, tapi konsisten.
VendorBaju.com mengajarkan saya satu hal:
yang membuat usaha bertahan bukan cuma order, tapi proses.
Saya bukan orang yang tiba-tiba jadi hebat. Saya hanya orang yang lelah hidup berantakan.
Jadi saya memilih merapikan satu per satu.
Dan perlahan, saya sadar: yang saya bangun bukan cuma usaha.
Saya sedang membangun versi diri saya yang baru—versi yang tidak lagi hidup dengan panik setiap hari.
Saya mulai merapikan hal-hal yang dulu saya anggap sepele:
- Cara saya menerima order
- Cara saya mencatat
- Cara saya mengatur produksi
- Cara saya menjaga kualitas
- Cara saya membangun kebiasaan kerja
- Cara saya manjaga deadline
Kenapa Saya Menulis Ini di HW Studio
Saya menulis ini bukan untuk jualan. Saya menulis ini untuk mengingat.
Suatu hari nanti, ketika saya sudah jauh melangkah, saya ingin kembali ke halaman ini dan berkata pada diri sendiri:
“Saya pernah di bawah. Saya pernah bingung. Saya pernah hampir menyerah.
Tapi saya tetap jalan.”
VendorBaju.com bukan garis finish. Ini adalah salah satu tonggak.
Tempat saya belajar: kalau hidup tidak memberi jalan yang mudah, kita bisa membuat jalan pelan-pelan.
Penutup
Kalau saya harus merangkum semuanya dalam satu kalimat, mungkin ini:
Saya tidak mulai dari sempurna. Saya mulai dari bertahan.
Lalu dari bertahan, saya belajar untuk bertumbuh.
Dan sampai hari ini, saya masih berjalan.


