Cara Saya Belajar Koding dengan GPT
Dari nol, pelan-pelan, tapi jadi.
Saya bukan lulusan IT. Saya bukan orang yang jago koding dari dulu. Yang saya lakukan lebih sering terdengar “sederhana”: saya banyak copy–paste dari GPT, lalu saya uji, saya perbaiki, saya ulang. Tapi justru dari situ saya paham—sedikit demi sedikit—cara kerja koding yang benar.
Di artikel ini saya tulis cara saya belajar koding pakai GPT dengan gaya praktik: langkahnya apa, prompt-nya bagaimana, cara ngecek error, sampai cara “mengunci” hasil supaya tidak rusak saat revisi.
Ringkasnya: GPT Itu Partner, Bukan Tukang Sulap
Kalau saya bisa rangkum, GPT paling berguna untuk 3 hal:
Menerjemahkan ide jadi langkah teknis (biar saya nggak bingung mulai dari mana)
Bikin draft kode cepat (biar ada bahan yang bisa diuji)
Ngebedah error (biar saya paham penyebabnya, bukan cuma “beruntung bisa jalan”)
Tapi saya juga belajar satu hal penting: kalau prompt saya ngaco, hasilnya juga ngaco. Jadi kuncinya bukan “pintar koding dulu”, tapi pintar bertanya dan rapi saat ngetes.
Alur Belajar Koding Versi Saya (Step-by-Step)
1) Mulai dari tujuan yang super spesifik
Bukan: “Bikin aplikasi.”
Tapi:
“Bikin tombol ‘Simpan’ yang masukin data ke database.”
“Bikin form yang bisa hitung harga otomatis.”
“Bikin halaman yang ambil data dari Google Sheet dan tampil rapi.”
Kenapa: GPT lebih akurat kalau scope kecil.
2) Pakai format prompt yang “ngunci” konteks
Saya biasanya pakai template seperti ini:
Template Prompt (copy-paste):
Kamu bertindak sebagai senior developer.
Teknologi yang dipakai: (tulis jelas, misal Flutter / WordPress / Firebase / Node).
Target: (tulis 1 fitur saja).
Kondisi saat ini: (jelaskan singkat, bisa tempel potongan kode).
Batasan: “Jangan ubah struktur yang sudah jalan. Tambahkan fitur tanpa merusak fungsi lama.”
Output yang saya mau:
Penjelasan singkat
Kode final
Lokasi file & bagian mana yang diganti
Checklist testing
Kalau konteksnya panjang, saya minta GPT: “Bagi jadi 3 langkah, setiap langkah harus bisa saya test.”
3) Minta GPT membuat “rencana patch”, bukan cuma kode
Saya paling kebantu saat GPT menulis seperti ini:
File:
lib/screens/xxx.dartCari bagian:
Widget build(...)Tambahkan kode di bawah
// === section A ===Jangan ubah bagian lain
Lalu kasih checklist test
Ini bikin saya tidak “nyasar” dan tidak merusak bagian yang sudah jalan.
4) Jalankan, lihat error, balikin ke GPT dengan format yang benar
Kalau ada error, saya jangan cuma bilang “error bro”. Saya kirim begini:
Template Debug Prompt:
Ini error lengkapnya (copy log).
Ini file dan barisnya (kalau ada).
Ini kode bagian terkait (tempel 20–60 baris di sekitar error).
Ini yang saya harapkan terjadi.
Ini yang terjadi sekarang.
Lalu saya tanya:
“Tolong jelaskan penyebabnya dan kasih perbaikan minimal (minimal change).”
5) “Minimal change” itu wajib biar proyek tidak hancur
Salah satu kesalahan terbesar saya dulu: minta GPT “rapihin sekalian”.
Hasilnya: kode berubah banyak, bug baru muncul, saya panik.
Sekarang saya biasakan kata kunci ini:
minimal change
do not refactor
keep existing structure
only add what’s needed
6) Kalau sudah jalan, saya minta GPT bikin “catatan konsep” versi manusia
Ini penting supaya saya ngerti. Contoh pertanyaan saya setelah fix:
“Tolong jelaskan dengan bahasa sederhana: data mengalir dari mana ke mana?”
“Kenapa harus pakai async/await di bagian ini?”
“Kalau nanti saya mau tambah fitur X, bagian mana yang harus saya sentuh?”
Saya anggap ini seperti “kuliah kilat” setelah praktik.
Cara Saya Menghindari Copy-Paste Buta
Saya tetap copy–paste, tapi saya pakai aturan sederhana:
Pahami input-output
Inputnya apa? (data masuk)
Outputnya apa? (yang tampil/tersimpan)
Pahami titik bahaya
bagian yang nyimpen data
bagian yang ngubah state
bagian yang manggil API
Di situ saya lebih hati-hati.
Pakai checkpoint
Sebelum tempel perubahan besar, saya simpan versi aman:
copy file ke
*_backup.dart(atau git commit kalau pakai git)
Prompt Siap Pakai untuk Belajar Koding (Praktis)
Prompt A — Belajar dari nol dengan proyek nyata
“Anggap saya pemula. Saya ingin bikin fitur [X] di [teknologi]. Jelaskan langkahnya seperti tutorial. Setelah setiap langkah, kasih cara test. Jangan lompat.”
Prompt B — Minta kode yang aman (tidak merusak)
“Tambahkan fitur [X] ke kode ini, tapi jangan ubah struktur yang sudah berfungsi. Berikan patch minimal.”
Prompt C — Baca error seperti senior
“Ini error log dan potongan kode. Tolong jelaskan penyebab utama, lalu berikan perbaikan paling kecil yang bisa membuatnya jalan.”
Prompt D — Minta versi yang lebih rapi setelah fix
“Sekarang sudah jalan. Tolong rapikan hanya naming/komentar ringan tanpa mengubah logic. Kalau berisiko, jangan dilakukan.”
Kesalahan yang Paling Sering Terjadi (dan Solusinya)
Terlalu banyak minta sekaligus → pecah jadi fitur kecil
Tidak kirim konteks yang cukup → tempel kode + log + tujuan
Minta “dibagusin” sebelum beres → selesaikan fungsi dulu baru rapihin
Tidak ada catatan perubahan → pakai backup/commit
Ngulang error yang sama → minta GPT bikin checklist test
Penutup: Saya Belajar Koding dengan Cara yang Jujur
Saya tidak malu bilang: banyak bagian saya bangun dari hasil GPT.
Tapi yang membuat saya maju bukan karena saya “hebat”, melainkan karena saya:
berani mulai dari fitur kecil
rajin testing
sabar ngulang
dan mau memahami pelan-pelan setelah berhasil
Kalau hari ini saya bisa bikin aplikasi, website, automation, atau panel admin—itu bukan karena saya tiba-tiba jago. Itu karena saya konsisten latihan, dibantu GPT sebagai partner belajar.