Bukan Liburan Mewah, Tapi Kenangan yang Mahal
Ada momen di hidup ini yang tidak butuh hotel bintang lima, tidak butuh itinerary rapi, dan tidak butuh foto yang “wah” untuk terlihat berhasil. Cukup tenda sederhana, angin malam, suara serangga, dan tawa kecil dari orang-orang yang paling saya sayangi.
Camping keluarga buat saya bukan soal gaya hidup. Ini soal pulang—bukan pulang ke rumah, tapi pulang ke rasa.
Kenapa Camping Jadi “Liburan” Paling Masuk Akal
Di hari-hari biasa, hidup sering berjalan seperti mesin: kerja, tanggung jawab, target, dan pikiran yang tidak berhenti. Bahkan saat tubuh di rumah, kepala masih di mana-mana.
Camping punya cara unik untuk memutus kabel-kabel itu.
Sinyal kadang lemah. Notifikasi tidak ramai. Dan anehnya, justru di situlah saya bisa benar-benar hadir.
Saya bisa melihat wajah istri tanpa terburu-buru. Saya bisa mendengar cerita anak-anak tanpa sambil memikirkan hal lain. Saya bisa diam… tanpa merasa bersalah.
Bukan Tentang Tempatnya, Tapi Tentang “Kita”
Saya masih ingat satu malam: langit gelap tapi penuh bintang. Anak-anak sudah mulai mengantuk, suara mereka pelan-pelan turun volumenya. Istri merapikan barang, lalu duduk sebentar—capek, tapi senyumnya hangat.
Saya duduk di dekat api kecil (atau lampu tenda, kalau tidak bisa bikin api), dan tiba-tiba kepikiran:
“Kalau suatu hari nanti anak-anak sudah besar, apa yang mereka ingat?”
Mungkin bukan merek sepatu yang saya belikan. Bukan juga tempat makan hits yang saya ajak.
Tapi momen-momen kecil seperti ini:
saat mereka menggigil kedinginan lalu minta dipeluk,
saat mi instan terasa seperti makanan terenak sedunia karena dimakan bareng,
saat kita tertawa karena tenda hampir salah pasang,
saat hujan turun dan kita “terpaksa” berdekatan, lalu jadi hangat… bukan hanya karena selimut.
Di camping, yang mahal bukan biayanya—tapi kebersamaannya.
Ada Rasa Syukur yang Datang Pelan-Pelan
Kadang, di tengah hiruk pikuk kerja dan mengejar banyak hal, saya lupa satu hal paling sederhana: saya masih punya keluarga yang mau diajak bareng.
Camping mengajarkan saya untuk mensyukuri versi hidup yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tapi terasa luar biasa bagi saya.
Bisa menggelar matras.
Bisa memasak sederhana.
Bisa bangun pagi dengan udara segar.
Bisa melihat anak-anak lari tanpa takut jatuh di lantai keramik.
Hal-hal kecil itu seperti mengembalikan “jiwa” yang sempat capek.
Paling Berkesan Justru Saat Tidak Sempurna
Lucunya, camping itu hampir tidak pernah mulus.
Ada yang lupa bawa sendok. Ada yang salah bawa kabel. Ada yang tiba-tiba hujan. Ada yang kelaparan karena belum sempat masak.
Tapi di situlah cerita lahir.
Dan saya percaya, keluarga itu bukan dibangun dari hari-hari yang sempurna. Keluarga dibangun dari momen-momen ketika kita sama-sama belajar: sabar, kompak, saling bantu, saling menguatkan.
Camping adalah latihan kecil untuk kehidupan besar.
Momen yang Diam-diam Saya Tunggu
Ada satu momen yang selalu saya tunggu: pagi hari.
Saat mata baru melek. Udara masih dingin. Anak-anak masih setengah sadar. Istri sibuk menyiapkan sesuatu. Saya duduk sebentar, lihat sekitar—pohon, kabut tipis, suara alam.
Di situ saya sering merasa:
“Kalau hidup hanya tentang kerja, rasanya tidak cukup.”
Bukan berarti kerja tidak penting. Tapi kerja adalah kendaraan, bukan tujuan.
Tujuan saya tetap sederhana: keluarga yang damai, sehat, dan punya kenangan baik.
Penutup: Tidak Mewah, Tapi Mahal di Hati
Mungkin bagi sebagian orang, camping itu merepotkan. Dan memang, kadang repot.
Tapi saya belajar satu hal: kebahagiaan tidak selalu datang dari yang paling nyaman. Kadang kebahagiaan datang dari yang paling sederhana—asal dilakukan bersama orang yang tepat.
Jadi kalau ada yang bertanya, “Kenapa sih camping terus?”
Jawaban saya:
Karena ini bukan liburan mewah…
tapi kenangannya mahal.